Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Monday, 10 August 2015

Merayakan Kita

Aku sedang merayakan kita, dengan nada nada minor dikepala. Entah gitar entah biola, aku benci memulai ketumbangan raga dengan cara tak semestinya.
Aku sedang merayakan kita, tak peduli kau tak ada. Sepi menelanku sejak lama, tak memiliki rasa, tak berasa.
Aku sedang merayakan kita, tanpa alkohol tentunya. Nona, entah bagaimana kutemukan bayang pada rinai hujan. Sepekat malam hatiku lebam dihajar kenyataan.

Nona, hadirmu tiada.
Tak kumohon untuk kau hadir ditengah kita.
tentu saja aku dengan bayangku yang terlihat nestapa.

Nona, aku termakan rindu.
Menunggumu tak menghiraukanku kepada laju waktu.

Ijinkan aku melangkah, selangkah.
Tak mengapa jika memang harus tanpa kamu.
Sekalipun aku harus melawan resah.
Tak mengapa selagi itu untuk bebasku.
Yang tanpa kamu.
Tanpamu.

Semoga ini terakhir kalinya aku merayakan kita.
Semoga. Nona.

Monday, 27 July 2015

Matiku Milikmu

Kau menggurat pilu.
Pahit pahit kau beri untukku.
Tak adakah manis yang kau beri untukku.
Semu semu kau pergi dariku.

Kau tanya untukku.
Bukan jawab yang hadir padaku.
Tak adakah kepastian bagiku ?
Lama waktu kau menggantung rasaku.

Kau malam malam kelabu.
Rindu rindu kurajut padamu.
Kata kata kuberi padamu.
Sendu sendu matiku milikmu.

Kau bajingan yang kutunggu.
Keparatnya dirimu tak mengindahkan pintaku.
Sebrengsek itu.
Mati ku padamu

Thursday, 4 June 2015

Mungkin Aku Terlalu Lelah Merindukanmu

Mungkin aku telah lelah merindukanmu.
Sebab ketika pejamku, aku sudah tak lagi menemukanmu.
Sebab ketika udara masuk dalam peparu, tak ada lagi sesak yang mendesakku.
Mungkin aku terlalu lelah merindukanmu.
Aku menggambarkan bayangmu didalam pikiranku, kau tahu yang kudapati hanyalah kelabu.
Mungkin aku terlalu lelah merindukanmu.
Kalimatku mati suri, aku tak tahu bagaimana lagi aku harus menggambarkan betapa aku begitu merindukanmu.
Kau tahu, aku benar benar lelah merindukanmu.
Kini aku tak lagi peduli padamu.
Kini aku tak bisa lagi memikirkanmu, bahkan aku benar benar lupa bagaimana senyummu.
Kini, aku ingin membunuh perasaanku padamu untuk yang terakhir kali.

Saturday, 28 March 2015

Bagaimana Orang Tidak Memanggilmu Indah ?

Bagaimana orang tidak memanggilmu indah ?
Insan yang hidup penuh kasih sejak lahir, yang mencari kuncup puting susu ibunya yang tengah mengembang cantik.
Lapis bibir rahim yang ditembus dengan tenaga kasih ibunya dan berkat dari Tuhan.
Orang yang tumbuh dan dewasa.
Bagaimana orang tidak memanggilmu indah ?
Ketika kau berjalan dibawah sang surya yang begitu terik, hanya kaulah yang membuat mataku mengenal teduh.
Bagaimana orang tidak memanggilmu indah ?
Dihari yang dingin, dimana gigil menyusupiku namun senyummu selalu saja membuatku lupa rasa dari gigil.
Bagaimana orang tidak memangilmu indah ?
Bayangmu mampu merambat di nadiku, jantungku berdenting dengan ritme yang tidak pasti disaat kali pertama mataku menatapmu.
Bagaimana orang tidak memanggilmu indah ?
Indah adalah takdir yang kau miliki, dan memujimu adalah pendewasaanku untuk jujur pada diriku sendiri.

Friday, 27 March 2015

Lengkap

Muram awan tak seberapanya bahagiaku.
Seolah awan menari diatas sana.
Bergerak ditiup udara.
Bebas.
Tidakkah kebebasan adalah milikku.
Menikmati apa yang ingin aku nikmati.
Tidak peduli bagaimana orang lain, namun tidakkah aku bahagia ?
Egois.
Seperti tebing yang menghalangi pandangan senja.
Seolah ia hanya ingin sendirian menatap senja.
Bukan karena ingin sendiri, namun dia tidak ingin senjanya dinikmati orang lain.
Lucu.
Seperti halnya kamu, bagaimana bisa ada orang yang seperti kamu ?
Yang berpikir segalanya adalah milikmu.
Ketahuilah, sesuatu yang melengkapimu itu bukan milikmu.
Seperti halnya puzzle yang terkait satu sama lain, mereka tidak bersatu namun hanya melengkapi.
Dan seperti itupun aku, yang tidak merasa dilengkapkan. Olehmu.

Thursday, 26 March 2015

Pesan Dari Rasa yang Tanpa Suara

Aku berada pada malam.
Dimana dingin mengutuki mereka yang sedang merindukan seseorang.
Selimut tak lagi menghangatkanku.
Beku menjalar di nadi nadiku.
Bagaimana kabarmu ?
Daun berserak ditepi jalan pagi nanti.
Sebab angin meniupi pepohonan malam ini.
Malam yang aku takut lewati sendiri.
Malam dimana aku memikirkan seseorang yang sedang membayangkan orang lain bersamanya.
Sebab itu menyakitkan.
Seharusnya kau tahu, bagaimana aku jatuh cinta padamu dan tak sanggup bangun lagi.
Bagaimana bisa kepedulianku kepadamu tak kau indahkan.
Aku tidak menuntutmu memekakan segala indramu.
Seperti halnya daun daun yang terbang ditiup udara, begitulah yang seharusnya yang terjadi.
Namun tidak.
Apapun yang kulakukan tak menghasilkan sedikitpun geming darimu.
Sedikitpun tidak.
Sama sekali tidak.
Lalu, apakah jawabnya tidak ?
Atas segala pertanyaan pertanyaan yang berputar dikepalaku.
Sebab kini kau memilihnya dan aku tak ada pilihan selain kamu.
Sebab sesungguhnya cinta bukan pemilih.
Kau memilihnya, aku memilihmu.
Tak ada yang seharusnya, tetapi aku hanya memilihmu.
Menjatuhkan hati harus menyadari kehancuran.
Semoga kau bahagia, bersamanya.
Sebab cinta adalah pengorbanan, jika kau tidak bersamaku, paling tidak kau bahagia.
Namun tidakkah kau bahagia saat bersamaku ?

Saturday, 28 February 2015

Didalam Mimpiku

Didalam mimpiku, ada kamu berdiri di rerumputan sebelum pantai dengan pasir putih yang silau.
Nyiur angin meniupi rambutmu, membuatnya menari bersama udara.
Ombak bergulung dikejauhan, tepi pantai hanya ada ketenangan. Namun suara suara dari kejauhan itu selalu membuatmu candu. Suara ombak yang bergulung.
Didalam mimpiku, ada kamu yang mengenakan gaun biru panjang sewarna dengan warna laut yang tosqua ditepi dan biru ditengah.
Langit bersih, cuaca cerah dan mentari tersenyum bersamamu.
Sebab hari masih muda, didalam mimpiku aku tak berjumpa senja.
Didalam mimpiku, aku ini tak berupa, tak memiliki tangan pula badan yang berwujud. Dalam mimpiku sendiri aku hanya seperti hantu yang memandangimu ditepian pantai tak bernama pula bertuan.
Didalam mimpiku, kau seolah menengok dan melempar tatap kearahku.
Aku yang tak berwujud, aku yang tak bisa kemanapun seolah aku hanya terpaku menatapimu.
Didalam mimpiku, kau tersenyum menghampiriku berlari kecil dan bertelanjang kaki.
Kau mengulurkan tanganmu, aku juga mengulurkan tanganku.
Tetapi aku tak berwujud, bertangan pula berbadan.
Didalam mimpiku, dikedekatan ternyata kau meraih sebuah boneka yang ada didiriku.
Teddy bear itu hanya setinggi lengan, dengan rompi berwarna biru.
Dalam mimpiku, kau tersenyum menatapi boneka itu, kemudian kau menari nari bersamanya.
Bersama angin yang bertiup diiringi irama ombak dari kejauhan.
Kau bahagia, mungkin pula boneka itu.
Sebab boneka itu tak berekspresi, ia hanya menari bersamamu.
Didalam mimpiku, kau dihampiri seorang laki laki.
Dengan kemeja dan celana putih, seperti pangeran yang merusak mimpi seseorang.
Kau jatuhkan boneka itu, kemudian kau berlari menghampirinya, memeluknya dan tak segan kau mengecupi bibirnya didepan mataku.
Aku dapat melihat namun aku tak berwujud.
Didalam sadarku, aku berpikir mungkin aku dan boneka itu satu.
Sesuatu yang kau hampiri dan kau pungut, kemudian tak segan kau meninggalkannya.
Didalam sadarku, aku sadar aku bukan siapa siapa kecuali boneka yang ditinggalkan gadis ditepian pantai.

Saturday, 10 January 2015

Kau dan Aku Semoga Beda yang Dipersatukann Tuhan

Dalam petak petak otak.
Ada kenangan yang tersimpan rapat.
Ada mimpi yang mencari tempat.
Kau tidak akan pernah mengerti tentang masa.
Dimana asa menjadi nyata, dimana mimpi tak lagi hanya menjadi do'a.

Aku berdiri ditengah masa ini.
Sebelum masa depan.
Sesudah masa silam.

Aku merapalkan doaku kepada Tuhan.
Memberikan apa yang tak aku miliki kepada-Nya.
Menyisipkan namamu pada bait bait yang kurapal kepada-Nya.

Bagian bagian diriku adalah milik-Nya
Begitupun kamu.
Sebab ketahuilah, kau bagian dariku, begitupun aku bagian darimu.

Sebab aku selalu berharap kepada Tuhan.
Bahwasanya kita benar satu yang ditakdirkan.
Bahwa kita adalah bagian yang saling menyempurnakan.

Semoga takdir tidak membawa kita kemana mana.
Semoga kita benar seperti apa yang aku mohonkan kepada Tuhan.
Doaku selalu berada pada lintasan.
Menuju kepada Tuhan.

Kau dan aku semoga beda yag dipersatukan Tuhan.

Tuesday, 30 December 2014

Lelaki yang Kehilangan

Kepada angin yang bertiup diatas atap :
Adakah kabar baik untuk seorang lelaki yang diam menunggu paginya yang tak pernah kembali ?
Atau, adakah pesan terakhir dari senja yang perlahan tenggelam meninggalkannya diujung cakrawala yang dititipkan kepadamu ?
Seorang lelaki yang duduk diam dengan rindunya kepada pagi dan tanyanya kepada senja yang tenggelam tanpa meninggalkan pesan.
Seorang lelaki yang mencari bayangannya yang ditelan gelap malam, yang berdiri celingukan seperti anjing kehilangan tulang.
Seorang lelaki yang tidak peduli dengan waktu, sebab siangnya juga hilang, dia hanya memiliki gelapnya malam.
Seorang lelaki yang menelan keyakinan, sebab janjinya juga menghilang, mungkin dirobek buta kala dan dihanyutkan pada parit parit yang mengalir sampai lautan.
Kepada angin yang bertiup diatas atap :
Bisakah kau membawa rapalan doa lelaki yang kehilangan itu dalam gulungan angin dan menyampaikannya kepada Sang Pencipta ? Aku kasihan menatap dia yang tertunduk didepan cermin.

Terima Kasih, 1000 Bahagia

Bahagia tercipta dari mana saja.
Kebersamaan, canda, tawa.
Mereka adalah sumber sumber bahagia.
Mungkin bahagia adalah ketika kamu mampu menggenggam tangannya dan membuatnya nyaman bersamamu.
Mungkin bahagia adalah saat kamu berbagi cerita bersama sahabat sahabatmu dan kamu sedang tertawa oleh karena kebodohan dimasa lampau, entah kebodohanmu atau kebodohan sahabat sahabatmu.
Tetapi mungkin, bahagia serupa mimpi yang menjadi nyata, angan yang mampu membuatmu tersenyum dan sekarang kamu memilikinya.
Bahagia tak ubahnya anugerah yang seharusnya disyukuri, berterima kasih kepada Tuhanmu dan orang orang yang mewujudkan mimpimu.
Maka ketahuilah, aku sedang bahagia. Sebab mimpiku sedang menjadi sedikit terang.
Seperti halnya anak kecil yang diberi kado mainan impiannya, mungkin seperti itu aku saat ini.
Terima kasih kepada kalian, sebab dengan kalian aku memiliki sedikit mimpi kecilku. Terima kasih, untuk Tuhan yang memberiku umur panjang hingga saat ini, 23 tahun aku sudah diperhatikan oleh-Nya.
Terima kasih.

Friday, 26 December 2014

Rak Rak Buku Dan Kereta yang Berjalan Di Rel Tua

Pada rak rak buku yang berdebu, pernahkah kau menyadari satu hal ?
Yang tersisip disana adalah tulisan dari masa lampau.
Pada kertas kertas yang kecoklatan dan bau yang cukup aneh.
Lembar lembar yang tersisip disana adalah bagian dari kenangan yang bewujud nyata dan kau bisa dengan mudah membacanya.
Buku buku yang berbendel dan terjahit dengan benang.
Buku yang tebal, yang didalamnya masih menggunakan ejaan soewandi.
Apa kau memperhatikannya ?
Sesuatu yang tak kau perhatikan namun aku ingat setiap detilnya.
Begitulah kamu yang sedikitpun tak peduli apa yang ada disekitarmu.
Seolah kau hanya kereta yang melaju pada rel yang sudah tua.
Yang melewati segalanya tanpa memperhatikan apa yang ada disekitarnya.
Terkadang hanya melaju tanpa aba.
Baik memang jika kau terus berjalan maju.
Meninggalkan masa lalu yang sudah habis dimakan waktu begitu detik juga melangkah maju.
Tetapi ketahuilah, aku bagai matahari yang selalu bersamamu.
Menemanimu melangkah maju, terbit dan terbenam sebagai penanda waktumu.
Yang kau campakkan saat bosan dari hangatku.
Yang kau rindui saat dingin mendekap tubuhmu.
Aku yang menyapamu dipagi hari, berharap aku yang pertama mengucap itu dan kau mengingatnya. Tapi kurasa tidak.
Aku yang menulis baris baris indah, memujimu agar kau tahu, betapa aku jatuh diperaduanku. Padamu.
Namun kamu, kamu hanya gema pada muka muka danau.
Yang bergerak kemudian diam.
Diam yang menelanku dalam bimbang.
Bimbang yang membawaku pada satu titik yang melelahkan.
Aku hanya buku yang terselip pada rak tua berdebu, dimana kamu hanya melewatinya. Tanpa memiliki keinginan ingin mengetahui apa yang didalamku.
Kau kereta yang berjalan diatas rel tua dimana aku senja yang tak kau pedulikan cahayanya.

Tuesday, 23 December 2014

Kepada Perempuan yang Dipuji Lelakinya

Kepada perempuan yang diberkati untuk dipuja lelakinya.
Kamu adalah perempuan yang mandiri, yang tidak merengek seperti seorang bayi saat lelakimu sedang bermalas malasan dengan kopi dan batang rokok dihari liburnya. Namun kamu seketika menjelma menjadi kucing yang manja untuk membuat lelakimu gemas dan berlama lama diatas tempat tidurnya.
Kamu adalah perempuan yang pandai, yang mudah mengerti apa mau lelakimu dan dengan sigap melakukannya. Namun seketika jadilah penuntut yang juga ingin dimengerti, ingatkan lelakimu untuk setiap hak yang kamu miliki.
Kamu adalah perempuan yang tulus, yang rela terbangun saat fajar. Menyiapkan sarapan untuk lelakimu dan kemudian membangunkannya. Ingatkan dia, bahwa wajib bagi lelakimu untuk mencari alat tukar kebutuhan dan mensejahterakan hidupmu.
Kamu adalah perempuan yang memang seharusnya dipuja lelakimu, saat kamu bersanding dengannya kelak, patrikan dalam benakmu setiap kewajiban yang harus kau upayakan dan terbukalah untuk setiap hakmu pada lelakimu. Berikan lelakimu kebebasan yang dia inginkan selagi itu tidak menyimpang dari janjinya dan memberatkanmu. Dan ketahuilah bahwa lelakimu terkadang memujimu dengan cara yang bahkan kau tak menyadarinya.
Kepada perempuan yang diberkati untuk dipuja lelakinya, jadilah perempuan yang mampu meluruskan jalan lelakimu ketika ia melenceng dari yang seharusnya.
Dan kepada perempuan perempuan yang seperti itu, kami lelaki akan selalu memujimu dan berterima kasih kepadamu.

Wednesday, 17 December 2014

Rumah, Laci Laci Kecil Di Kepalamu

Bumi perputar pada kisaran waktu yang tidak diketahui.
Mungkin kita akan menua dan mati.
Mungkin kita akan menjadi bangkai pada saatnya nanti.
Tetapi saat ini kita hidup dan tidak tahu untuk apa kita hidup.

Setiap hari yang telah berlalu, mereka tidak hilang.
Mereka tidak menguap seperti halnya genangan air dijalan jalan.
Mereka memiliki rumah, laci laci kecil dikepalamu.
Mereka bersembunyi disana, menantimu untuk membukanya.

Kenangan demi kenangan tersusun rapi didalam kepala.
Entah itu kenangan manis atau kenangan yang rasanya ingin kau lupakan.
Mereka hidup dan menantimu.

Aku tidak memintamu untuk mengingat hari dimana kita bersama.
Aku tidak memintamu kembali ke masa dimana masih ada rasa pada definisi kita.
Tetapi aku hanya ingin kau tahu.
Bahwa aku masih hidup didalamnya.
Disalah satu laci didalam kepalamu.
Aku hanya memohonmu untuk membuka laci disana.

Satu hari aku memohon untuk kamu mengembalikan kekitaan kita.
Kemudian aku terlengkapkan kembali dengan menggenggam tanganmu.
Kemudian kau boleh meninggalkanku.
Sebab mungkin saat itu aku sadar, bahwa kau tidak akan pernah kembali.
Bahwa aku hanya dandelion yang lepas dari tangkainya.
Aku harus terbang dan mencari tanahku.
Sebab kamu adalah tangkai dimana aku tidak dapat mengakar padamu.

Aku adalah dandelion yang terbang sebelum saatnya aku lepas dari tangkai yang kudekap.
 

Saturday, 6 December 2014

Berjanjilah

Berjanjilah, ketika kau tak menginginkanku. Bencilah aku.
Berjanjilah, ketika hadirku tak berguna untukmu. Jangan paksakan dirimu untuk menemuiku.
Berjanjilah, jika waktu telah mengurungmu dalam sendu. Jangan pernah menghubungiku dengan pilu.

Sebab mungkin aku yang sekarang masih rapuh untuk merelakan.
Aku masih terkutuk pada kebiasaan kebiasaan yang kau berikan.
Terjaga di pagi hari hanya untuk secangkir kopi ataupun memberondongi cerita pada senja diujung cakrawala.
Aku masih menemukan sedikit bahagia disana.

Sebab suatu hari, jika kau mencariku aku tak akan lagi ada.
Sebab aku telah pada titik seseorang yang benar benar merelakanmu.
Sebab aku telah menemukan bahagiaku.
Sebab aku telah sepenuhnya sadar bahwa cinta adalah tentang sebuah pengorbanan.
Untuk merelakanmu yang mungkin bahagia.

Friday, 5 December 2014

Ketumbanganmu

Sebab debar ini milikmu.
Lalu bagaimana aku bisa hidup tanpamu ?
Sela jariku pernah terisi oleh jarimu.
Kita seperti puzzle yang saling mengisi.

Butir hujan jatuh menghantam tanah dan bagaimana aku yang tak bisa menatapmu yang tengah tergeletak.
Rebah, kau rebah dalam keputus asaan.
Tumbang dalam takdir yang hanya kau pasrahkan.

Lihatlah tanganku yang mengulur untukmu.
Aku ingin membangkitkanmu.
Jangan pasrah dengan keadaan, kau bukan kaca yang sudah tidak bisa utuh setelah jatuh.

Kumohon, bangkitlah dan raih tanganku.
Sebab aku adalah yang menuntunmu pada bahagia tanpa ujung.
Namun aku tak lagi menerima sambut, seperti dulu.

Mungkin sepertinya hadirku tak lagi berarti.
Seperti kopi yang berdiri diantara tawa.
Yang hanya dibiarkan dingin.
Sampai sadar.
Keterlanjuran membuatnya tak lagi dapat dinikmati.

Tuesday, 4 November 2014

Datangnya Hujan

Hujan bukan saja perkara tentang sedih dan rindu, sebab semesta mampu menggambar segala rasa.
Mungkin seperti :

Kamu jatuh seperti hujan, dimuka muka hati yang membutuhkan senyum agar hidup. Karena hujan kamu jatuh, sebab hujan kamu hadir.

Hujan tak berbisik nyeri, harmoninya indah. Begitu banyak orang yang menikmatinya dengan minuman hangat, entah kopi atau teh. Mungkin juga susu. Tapi yang ternikmat dari hujan adalah menikmatinya bersamamu.

Kelak hujan hadir dibulan yang sama, seperti bulan ini. Dengan kita yang sudah diberanda rumah kita menikmati dinginnya. Kamu akan mengecupku di beranda rumah.

Hujan tak membawa petaka, mereka jatuh membawa kehidupan. Aku pohon yang meranggas akibat musim panas dan kamu harapan yang turun dari langit.

Bumi menyambut hujan ketika dia datang dan menyimpannya didalam. Seperti aku, yang akan menyambutmu datang dan tak akan melepaskannya lagi.

Thursday, 30 October 2014

Hujan Yang Menghujani Rumahmu

Semesta hanya bergeming, pada malam yang telah dihujani rindu.
Tidak ada angin yang berhembus.
Semoga hujan juga telah menghujani rumahmu, agar kau tahu rinduku ini riuh memanggil kamu.
Semoga ditempatmu terasa dingin, maka begitupun aku yang merasa seperti itu.
Ketanpaanmu membekukan diri.
Sebenarnya aku ingin memohon, atau mengemis, sebab kekosonganku hanya bisa diisi kamu.
Daun jatuh pada tanah yang masih basah, begitupun aku yang akan cepat digerogoti belatung brengsek.
Lalu bagaimana lagi aku membunyikan rinduku ?
Ucapku sudah berantakan.
Aku, tak tahu lagi bagaimana aku merangkai kata kataku.

Monday, 27 October 2014

Jika Cinta Adalah Kamu

Jika cinta adalah kamu, ijinkan aku mencintaimu.
Jika cinta adalah kamu, maka rindu adalah peluru.
Jika cinta adalah kamu, senyum itu pastilah untukku.
Jika cinta adalah kamu, aku akan tahu untuk apa degup ini hidup.
Jika cinta adalah kamu, nadi nadi surga bergemuruh untukmu.
Jika cinta adalah kamu, seharusnya kamu tahu.
Jika cinta adalah kamu, maka matiku jika kehilanganmu.
Jika cinta adalah kamu, kumohon kembali dan hidupi aku.

Kopi Sabat

Adalah aku, yang merindukanmu terlalu dalam.
Adalah aku, yang menantimu datang pada pagi dengan secangkir kopi.
Adalah aku, yang tak berkesudahan merapalkan namamu, pulang, dan sayang.

Jika ada yang menggambarkan rindu pada sebuah pagi, itu kopi.
Yang hangat dan tanpa gula.
Yang harumnya sudah kukenali.
Yang didekap erat jemari hilangkan gigil dipagi hari.
Yang pekat, sebab pagi menarik fajar. Sebab gelap tak lagi semburat.

Kau adalah kopiku dipagi sabat.

Tentang Jodoh

Aku selalu yakin, bahwa jodohku sedang bersembunyi, seperti bintang dilangit malam ini. Bersembunyi dan malu.
Sebenarnya aku penasaran akan seperti apa bentuknya, rambutnya panjang atau pendek, suka dengan kopi yang diberi gula setelah diseduh juga ?  Atau kamu memang tidak menyukai kopi ? Lalu bagaimana dengan teh atau buku ? Kau menyukainya ? Lalu bagaimana kamu akan datang ? Aku yang menunggumu atau aku mencarimu ? Sebab ketahuilah, satu langkahku menujumu, satu langkahmu menuju padaku.
Jangan datang dengan dengan tergesa, nikmati dulu hidupmu, buatlah beberapa cerita seru didalamnya untuk kau ceritakan kepadaku nantinya. Tapi tenanglah, aku tidak akan menanyakan atau meminta untuk kamu bercerita hati mana saja yang sudah sempat kamu singgahi. Sebab ketahuilah mereka hanya anak tanggamu menujuku, jodohmu.
Beritahu aku jika kamu akan datang, biar aku bersiap untuk menyambutmu. Semoga saja aku tidak tuli saat itu, ketika kamu datang dan mengetuk pintu hatiku agar kau tak menunggu terlalu lama untuk aku membukakan pintunya. Aku takut jika kamu bosan dan kamu pergi, lalu aku menunggumu lagi, menghabiskan waktuku sendiri lagi. Sendiri.
Tentang jodoh, dia adalah ketidak tahuan yang selalu aku doakan. Semoga Tuhan masih menjaganya untukku dan memberikannya saat aku benar benar siap menerimanya dan mampu menjaganya. Karena aku takut jika Tuhan marah kepadaku jika aku tidak mampu untuk itu.
Tentang jodoh, mungkin saat ini aku masih benar benar brengsek untuk memilikinya, tapi saat aku siap dan dia datang, aku bersumpah untuk selalu setia padanya, segala milikku adalah milikmu. Dan segala yang dia miliki akan kujaga dengan baik.
Tentang jodoh, aku tidak mengharapkannya datang dengan kesempurnaan, sebab akupun tak akan pernah sempurna, karena dia adalah yang menyempurnakanku, yang membuatku utuh, tanpa kecompangan.
Tentang jodoh, aku tak tahu siapa dia, bagaimana wujudnya, pula bagaimana dia datang. Mungkin dia pernah datang namun tak ku pedulikan. Mungkin dia pernah datang namun aku sia siakan. Jika benar, maafkan aku. Kelak jika aku sudah siap, dia akan kembali dan aku tidak akan menyia nyiakannya lagi. Tidak akan acuh lagi.
Tentang jodoh, sebab yang dipersatukan Tuhan tidak dapat dipisahkan siapapun. Maka tenanglah, sampai mati dia tak akan pernah takut sendirian. Sebab aku akan selalu bersamanya.