Tuesday, 3 October 2017

Harapan di Ufuk Pagi

Dan petang meninggi, kala harapan mampir di ufuk pagi.
Aku adalah gelap yang dinanti.
Ketika temaram tak lagi menghiasi.

Lagu lagu sendu tersuar diantara retakan pilu.
Menanti tak pernah berujung temu.

Mungkin aku, manusia yang senantiasa memintal harap.
Menyuarakan rasa yang terserak, menerima nyata hatimu kedap.

Aku lelaki yang benci mengaku.
Aku lelaki yang tak mudah setuju.

Seolah takdir menyeret kita untuk menjauh.
Tapi aku juga tak percaya takdir.
Sebab aku tak mau kehilangan satu satunya rengkuh, saat hujan pertama jatuh.

Harapan masih di ufuk pagi.
Dan kamu satu khayal yang tak pernah kusesali.

Friday, 14 October 2016

Memanggilku Malam

Kini kau memanggilku malam, sebab yang kusisakan padamu hanya kelam.
Kini pagi mengintip, embun embun berjatuhan ke tanah namun tetap saja aku adalah malam.
Bagimu siang itu tak ada untukku, sebab kau menyumpahiku agar tak akan pernah sinar menyinariku.
Kini didalam malam aku membuat pesta, gemerlap menyeruak gelap. Menggantungkan pagi dibalik tirai yang akan kubuka setelah usai.
Bagimu roda akan berputar cepat dan mendoakanku tergilas kemudian sekarat.
Kini aku berdiri, menatap kesegala arah. Bersombong diri, membuat segala yang kau sumpahi salah.

Sebab aku tak bersalah, waktu menggilas kita. Bukan aku menyerah, namun semua tak lagi sama.

Katamu, aku bukan aku yang kau kenal dulu. Kataku, kau membuatku menjadi yang kau mau.

Apa yang salah, kau menyumpahiku. Meneriaki segala serapah padaku.
Lalu...
Lalu setega itu kau tinggalkan aku ?

Sebab aku benci menjadi aku yang kau mau. Aku adalah diriku. Aku adalah milikku. Aku hanya ingin menjadi aku. Aku yang dulu, yang begitu jatuh hati padamu dan kini menjadi aku yang bukan diriku.

Mungkin aku menjadi aku yang kau mau, tetapi aku juga bukan lagi aku yang jatuh cinta padamu.

Maafkan aku.

Sunday, 29 May 2016

Kata Orang Kau Suka Purnama

Purnama, begitu kata orang melihat bulan melingkar sempurna. Langit cerah dan udara lebih dingin dari biasanya. Syair syair tentang rindu yang ditulis pujangga.
Purnama, katanya buta kala sedang puasa. Menunggu kala, menyiapkan tenaga. Menelan purnama. Tak ada kidung kidung yang dinyanyikan ketika gelap gulita melahap semesta.
Kata orang, kau suka purnama yang bulat sempurna. Kau bercerita tentang segala rasa padanya. Memendam segala rasa hingga purnama tiba. Berdongeng hingga pagi menjemput; malam melingsut.
Aku ini buta kala, bukan kata orang; pengakuan. Aku benci purnama, aku lapar ketika dia sempurna. Aku ingin  melahapnya.
Sebab aku tak suka purnama. Dia tuli, tak bertelinga bahkan tak berindra. Kenapa kau masih bercerita kepadanya ?
Sebab aku tak suka purnama. Dia buruk rupa. Asal kau tahu saja, ketika kau bercerita dia memalingkan muka.

Sebab aku ini buta kala, mungkin Rahwana, mungkin Mahesashura. Aku ingin melahap purnama tempatmu bercerita. Sekalipun dia lahir kembali pada hari ke lima belas, aku akan memakannya. Aku iri pada purnama. Tempatmu bercerita.

Thursday, 26 May 2016

Tenunan Diam (Perayaan Jalang)

Inilah malam tempat dimana aku menenun diam. Ada bayang yang merupa kamu di antara riuh didalam kepalaku. Aku ingin lagu sendu, tak mengapa aku rasa ngilu. Lidahku kelu, ingin mengucap rindu. Aku khawatir jalang jalang malam itu menertawaiku. Mereka menari, entah ingin menghiburku atau minta disetubuhi.
Aku ini bukan pendo'a yang baik, pula kuharap aku bukan pendosa. Tapi aku adalah pengharap yang tak kenal pamrih. Pengemis dari hati yang aku mungkin pernah hidup didalamnya dan aku sia-siakan. Seseorang yang dulu selalu mencandu kini kurindu. Aku dungu dan ceroboh, hubungan yang seharusnya sekarang berdiri kokoh kini telah rata dengan kecewa yang tumbuh diatasnya.
Suaraku melirih diantara dunia yang mencoba membuatku bahagia. Aku tak ingin mereka, aku tak ingin berbahagia bersama mereka. Jalang jalang dan seorang pria hidung belang yang sayangnya adalah karib ku.
Aku keluar dari ruang yang hingar mencari sadar yang saat ini hanya serupa pendar. Disaat merindumu aku candu pada sloki sloki kristal, memohon pada langit agar kamu memaafkanku yang ceroboh namun aku tahu itu sia sia. Kau sudah bahagia, bersama dia yang begitu cekatan memperhatikan pada setiap detil detil yang kau sukai.
Tiga hari yang lalu, larut malam seperti malam ini aku pulang dan menemukan selembar undangan pernikahan. Amplop maroon dengan hiasan pita emas dan tulisan latin namamu dan dia dengan warna yang sama. Kala itu, aku merasakan sekali lagi bahwa segalanya bisa terjadi. Perasaanku ditelanjangi, sama seperti malam ini.
Langkahku tak lagi tegap, minuman sialan pikirku. Tapi sudahlah, paling tidak ini membuatku sedikit merasakan sakitnya kehilangan.
"Maaf" bukan sesuatu yang tepat saat ini. Sebab sekalipun aku memohon kau tak akan kembali. Merelakanmu bahagia mungkin memang satu satunya alasan untuk aku dapat bertahan. Sekalipun ada detak yang tak dapat kutahan. Aku akan datang di sebuah acara pernikahan.
Mungkin aku akan mengucapkan selamat kemudian pergi. Mungkin aku akan bertemu ayah ibumu, menjabat tangannya sekali lagi dan pura pura tersenyum dan merasakan bahagia. Mungkin aku takkan sempat mengicipi kudapan yang kalian sajikan, sebab aku telah kenyang oleh ribuan penyesalan yang kutelan dalam satu suapan.

Mungkin, setelahnya aku menjadi yang baru. Yang tak lagi ceroboh dan menghargai yang kumiliki. Tetapi mungkin, aku akan menjadi aku bersama jalang jalang malam merayakan hilang dari perasaan yang dulu aku sia siakan.

Thursday, 27 August 2015

Penari

                Kutemukan diriku yang lain, diriku yang didalam diriku sendiri yang sedang merayakan dirinya. Dia merayakan dirinya dengan cara menari dengan gemulai, mungkin seperti Rama. Dia yang bertelanjang dada menari merayakan dirinya. Dia hanya menari untuk dirinya sendiri tak ada mata yang menatap kearahnya kecuali aku yang menemukannya. Sebab dia ada dalam diriku, dia adalah aku yang kutemukan didalam diriku sendiri.
                Tak ada panggung atau pencahayaan yang cukup, aku hanya melihat dia sedang menari dengan gemulai didalam sebuah bayang. Temaram yang disekitarnya gelap. Aku tak mendengar bebunyian untuk mengiringi tarian perayaan dirinya, sesekali hanya kudengar suara langkah kaki yang ditimbulkan akibat tariannya.
                Dia sedang menari, kulihat sesekali dia menutup matanya menikmati setiap gerakan yang dia ciptakan. Seolah dirinya sedang merasakan kebebasan pada gerakannnya yang tak memiliki tempo pasti. Dia hanya bergerak dan menari dan merayakan tubuhnya.
                Semakin lama tariannya kian melambat sampai akhirnya berhenti dan tertunduk menghadap ke arahku. Dia mengangkat wajahnya dan membuka matanya. Aku sadar bahwa pandangannya tajam kearahku. Dia tersenyum, senyum yang penuh penghinaan. Dia menghinaku. Diriku yang lain itu berjalan menghampiriku. Kini aku dengannya hanya sejarak langkah.
                “Kau mungkin aku, kau mungkin diriku. Kau yang berada diluar sana, mengecap bagaimana kebebasan yang sebenarnya. Katanya langit itu biru maka lihatlah langitku. Katanya tempatmu berpijak dapat ditumbuhi pohon maka lihatlah yang kupijak. Katanya ada surya yang menyilaukan maka lihatlah pendarku ditengah. Namun ketahuilah, disini aku merasa bebas sementara kamu ? Sebab ditempatku tak ada dinding, maka hancurkanlah dindingmu kemudian rayakan dirimu.”
                Aku tak berkata, barangkali tak mampu berkata.
                “Sebab kebebasan itu ada jika kau ingin mencarinya.” Lanjutnya.
                Kemudian dia berjalan mundur, selangkah demi selangkah hingga tubuhnya ditelan bayang dan pendar pun meredup kemudian hilang.

Wednesday, 26 August 2015

Sheryl : Pertemuan

              Lantai duabelas, tempat saat ini aku berdiri dan menatap keluar. Mungkin kota ini adalah kota para raksasa, dimana buta kala sedang bersembunyi dibalik gedung gedung tinggi. Kendaraan lalu lalang tampak seperti segerombolan semut yang berbaris keluar dari sarang mereka mencari makanan. Jakarta  memang perkotaan yang sangat maju, bahkan mungkin kau tak mampu menghitung kendaraan yang melintas. Metropolitan mungkin memang nama yang tepat untuk kota ini.
                “Sat, lu besok ke Jogja ya buat ngurusin tender yang didapet kemarin. Tiket udah gue email.”
                “Dadakan banget sih ? Terus kerjaan gue ?”
                “Pak Anto ngomong gitu, gue nerusin doang.”
                Kutarik napas panjang, sebelum aku kembali menuju mejaku untuk melihat email dan mencetak tiket pesawat perjalananku besok. Semuanya telah dipersiapkan oleh kantor dari mulai tiket, tempat tinggalku sementara di Jogja dan yang lainnya. Aku di Jogja mungkin sekitar satu atau dua minggu kedepan. Jogja adalah kota untuk berlibur, bukan bekerja.
***
                Pukul  empat sore, langit sudah menguning diluar sana dan aku sedang membereskan mejaku bersiap untuk pulang. Sore ini aku ada janji untuk bertemu sahabatku di salah satu coffe shop tak jauh dari kantor. Dia sahabat SMA-ku, namanya Edgar. Kebetulan dia sedang mengambil cuti dan mengunjungi saudaranya yang ada di Jogja.
“Hai Gar, apa kabar ? Sudah lama menungguku ?”
“Seharusnya kau tak pernah terlambat Sher.” Jawabnya sambil tersenyum kearahku.
                Edgar sepertinya sudah menghabiskan setengah dari secangkir kopi pesanannya. Aku meminta maaf atas keterlambatanku. Dia sedikit menggerutu, memang begitulah kebiasaannya dari SMA. Dia adalah sahabat dari seseorang yang pernah terpisah dariku. Seseorang yang cukup berarti di hidupku, lalu bagaimana kabarnya sekarang ? Satria.
***
                Tentang pertemuan, disinilah awal dari semuanya. Tempat beberapa orang menginjakkan kakinya ditanah kelahiran mereka. Ada peluk yang menunggu mereka di lobby bandara, ada rindu yang siap dihamburkan didalam peluknya. Tentang pertemuan dengan seseorang, mungkin adalah hal yang menyenangkan. Aku tidak begitu mengenal hangatnya rindu yang membuncah didalam peluk dan kecup basah.
                Kutengok jam tanganku yang melingkar di lengan kanan, pukul tiga sore sebentar lagi waktu keberangkatanku. Aku berdiri dari kursi tempatku menikmati secangkir kopi menuju loket check-in untuk melakukan boarding. Aku akan segera menapaki langit, menuju kota tempat seseorang yang mungkin sekarang dia tinggal disana. Kuharap ketidak sengajaan menemukan kita, Sheryl.
***
                Setelah pertemuanku dengan Edgar aku jadi tahu, sekarang Satria bekerja di salah satu kontraktor ternama di ibukota. Kata Edgar, jangan pernah menanyakan keadaan Satria karena mungkin dia sudah mapan untuk kehidupannya jadi aku tak perlu khawatir tentang dia. Tapi aku merindukannya, sebagaimanapun aku tidak perlu khawatir tentang dia, aku merindukannya. Enam tahun sudah berlalu setelah hari terakhir kita bertemu. Sebab mataku tak bisa lepas dari album foto yang kita cetak dua, satu untukku dan satu untuknya.
                Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu sebuah pertemuan. Sebab penantian bukan perkara kesetiaan, akan tetapi kepastian. Adakah dia pernah memikirkanku ? Kini aku takut, aku pernah membuka hatiku dan memasukkan orang lain untuk menggantikannya. Aku tak dapat menyangkal disetiap debarku hanyalah dia, namun sepi sering menggiringku untuk menggantikannya. Namun usahaku sia sia, aku hanya mencintainya yang katanya dia selalu baik baik saja. (dan mungkin harinya sudah diisi yang lain.)
***
                Kata orang Jogja itu terbentuk dari rindu, kenangan dan kembali. Kalian yang pernah singgah di Jogja mungkin akan merasa ingin selalu kembali ketempat ini. Orang orang yang ramah dengan budaya keraton yang masih sangat kental mewarnai setiap sudut kota. Aku di Jogja, langit sudah gelap di Bandara Adi Sucipto. Beberapa supir taxi menawarkan diri untuk mengantar kita ke tujuan. Aku menunggu supir yang katanya sedang perjalanan menuju ke tempat tinggalku sementara di Jogja.
                 Tak lama supir yang menjemputku pun datang, senyumnya ramah dan sederhana. Dia menghampiriku sambil mengajukan tangannya.
                “Pak Satria ya ? Saya Anwar, saya yang akan mengantar jemput bapak selama di Jogja”
                “Untuk pertama, Mas. Jangan panggil saya bapak. Saya belum menikah.”
                “Ng—Ngapunten Mas, maksud saya maaf Mas. Mas mau langsung istirahat atau mau cari makan dulu?” Katanya sedikit kaku.
                “Santai aja mas sama saya, hehe. Mas Anwar sudah makan ? Kalau belum kita cari makan.” Kataku mengakrabkan diri dan dia pun tersenyum kemudian menuntun ke arah mobil kami.
                Di dalam mobil, aku teringat Sheryl.  Bukannya dia juga tinggal disini ? Aku ambil handphone ku dari saku, mencari nomor Edgar satu satunya orang yang mengenal Sheryl di kontak handphoneku. Kutekan dial akan tetapi nomor Edgar ternyata sudah tidak aktif. Aku sangat jarang berkomunikasi dengan Edgar, terakhir aku menanyakan kabarnya mungkin sekitar enam atau tujuh bulan yang lalu. Aku mendesah.
                “Kenapa mas ?” Tanya Anwar dibalik kemudi.
                “Nomor teman saya nggak aktif mas.”
                Aku menatap keluar, mobil itu melewati beberapa ruko yang sedang ramai ramainya. Ada beberapa coffe shop yang kami lewati, dari yang bertemakan outdoor hingga yang terlihat seperti kafe kafe modern. Setelah makan kita melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal sementaraku di sini. Aku sudah cukup lelah setelah perjalanan panjangku hari ini, sepertinya aku butuh istirahat.
                Rumah yang kutinggali sederhana, gerbang masuk beratapkan kanopi sebagai tempat parkir mobil dan perkarangan kecil didepannya. Di dalam hanya ada sebuah ruang tamu lengkap dengan tv dan dua kamar serta satu kamar mandi dan dapur kecil di belakang rumah. Walaupun kecil, rumah itu tertata dengan baik dan bersih.
                “Mas Satria kalo ada apa apa saya di kamar sebelah.”
                “Ini sudah malam, mas istirahat saja atau kalau mas mau pacaran juga boleh mas.” Candaku.
***
                Sabtu malam seharusnya tak pernah semembosankan ini, aku sudah membeli buku baru untuk kubaca. Tapi entahlah minatku untuk membaca hilang. Kuputuskan untuk menghubungi sahabatku, namun aku mengurungkannya. Aku sedang malas menjadi obat nyamuk, pasti dia sedang dengan pacar barunya.
                Akhirnya tanpa pikir panjang aku pergi ke coffe shop di daerah Gejayan, membawa buku yang baru aku beli. Minum kopi sembari membaca buku sepertinya menyenangkan. Coffe shop yang aku pilih adalah tempat yang tak terlalu ramai sebab tempat ini bukan tempat favorit anak muda menghabiskan waktunya. Tapi ini malam minggu, pasti lebih ramai dari hari biasanya.
***
                Sewaktu jalan pulang dari sebuah pertemuan dengan klien, aku menyadari bahwa tak jauh dari rumah dinasku ada sebuah kedai kopi kecil, tempatnya terlihat cukup menyenangkan dari luar. Di dalam kedai kopi itu didominasi oleh warna pastel yang hangat dan tataan kursi kayu dengan sandarannya. Setelah membersihkan diri aku berjalan menuju kedai kopi itu membawa laptop agar tak terlalu membosankan saat aku menghabiskan waktu sendirian.
                Aku memilih tempat duduk di area smooking room yang terletak didekat pintu masuk. Rasa caffelatte dari kedai kopi ini tak mengecewakan dengan harganya yang relative lebih murah. Kubuka laptopku untuk menikmati waktu luang sembari menyesapi cafelatte yang halus.
                Aku bersandar, menikmati suasana tempat itu sesekali. Beberapa orang sedang bercengkrama berbagi cerita dan diluar tampak kendaraan sedang berlalu lalang melintasi jalanan. Mataku terhenti saat melihat sesosok wanita yang sedang memarkirkan motor matic-nya. Dia mengenakan pakaian santai, kaos hitam dan cardigan coklat. Rambutnya yang panjang dan matanya yang berbinar, seolah aku mengenalnya. Aku memperhatikannya yang sedang mengecek notifikasi handphone-nya diatas motor.
                Dia beranjak dari motornya menuju pintu masuk yang terbuat dari kaca dan dibingkai dengan kayu jati. Dia membuka pintunya. Mata kita bertemu. Aku tak percaya melihat siapa yang aku temui dan kulihat dia memunculkan ekspresi yang sama. Kupanggil namanya.
                “Sher ?” kataku penuh tanya.
                Dia menghampiriku, memastikan siapa yang memanggilnya.
                “Aku hubungi Edgar tapi nomor handphonenya sudah nggak aktif.” Kataku lagi. Matanya berkaca.
                Dia tanpa kata, kepalaku penuh tanya. Dia tersenyum dengan matanya yang berkaca kaca memelukku yang masih duduk di kursi kayu.
                “Aku kangen kamu, syukur kamu baik baik saja. Sat.” Katanya didalam pelukan.

                 

Monday, 10 August 2015

Merayakan Kita

Aku sedang merayakan kita, dengan nada nada minor dikepala. Entah gitar entah biola, aku benci memulai ketumbangan raga dengan cara tak semestinya.
Aku sedang merayakan kita, tak peduli kau tak ada. Sepi menelanku sejak lama, tak memiliki rasa, tak berasa.
Aku sedang merayakan kita, tanpa alkohol tentunya. Nona, entah bagaimana kutemukan bayang pada rinai hujan. Sepekat malam hatiku lebam dihajar kenyataan.

Nona, hadirmu tiada.
Tak kumohon untuk kau hadir ditengah kita.
tentu saja aku dengan bayangku yang terlihat nestapa.

Nona, aku termakan rindu.
Menunggumu tak menghiraukanku kepada laju waktu.

Ijinkan aku melangkah, selangkah.
Tak mengapa jika memang harus tanpa kamu.
Sekalipun aku harus melawan resah.
Tak mengapa selagi itu untuk bebasku.
Yang tanpa kamu.
Tanpamu.

Semoga ini terakhir kalinya aku merayakan kita.
Semoga. Nona.